“Angka Naik, Air Juga Naik: Siapa yang Sebenarnya Sejahtera?”
Dewan Pimpinan Cabang Partai Bulan Bintang Kabupaten Pasuruan menanggapi berita yang tersebar ini bersumber dari Obor Nasional
Di sebuah ruang paripurna yang penuh tata krama dan kalimat-kalimat resmi, laporan dibacakan. Angka-angka disusun rapi seperti barisan prajurit. pertumbuhan ekonomi naik, kemiskinan turun, indeks pembangunan manusia meningkat. Semua tampak seperti kabar baik. Seolah-olah kehidupan rakyat telah bergerak menuju terang.
Namun rakyat tidak hidup di dalam angka.
Rakyat hidup di dapur yang kadang masih berasap tanpa kepastian. Di ladang yang hasilnya tidak selalu sebanding dengan kerja. Di sekolah yang masih jauh dari jangkauan, atau hanya sempat disentuh sebentar sebelum anak-anaknya harus membantu kehidupan.
Laporan Keterangan Pertanggungjawaban itu, pada dasarnya, adalah cerita tentang bagaimana pemerintah melihat dirinya sendiri. Ia adalah cermin yang dipoles dari dalam. Maka wajar jika yang tampak adalah wajah yang rapi, bukan luka yang terbuka.
Pertumbuhan ekonomi disebut meningkat. Tetapi pertumbuhan bagi siapa? Apakah ia tumbuh di kantong para petani kecil, buruh harian, dan pedagang pinggir jalan? Ataukah ia hanya tumbuh di grafik dan laporan, sementara rakyat tetap berjalan di tempat yang sama, memikul beban yang sama?
Kemiskinan disebut menurun. Tetapi penurunan yang begitu tipis itu, apakah benar-benar mengubah hidup seseorang? Ataukah hanya memindahkan angka tanpa memindahkan nasib?
Indeks pembangunan manusia naik. Tetapi ketika rata-rata lama sekolah masih berhenti sebelum pintu pengetahuan terbuka lebar, kita harus jujur bertanya. pembangunan manusia macam apa yang sedang dibicarakan?
Sebab manusia tidak dibangun dari angka. Ia dibangun dari kesempatan. Dari pendidikan yang utuh. Dari keberanian untuk berdiri di atas kakinya sendiri.
Dan di sinilah kita melihat sesuatu yang lebih dalam.
Bahwa pembangunan yang berjalan hari ini masih lebih sibuk memperbaiki laporan daripada memperbaiki kenyataan. Bahwa penghargaan demi penghargaan sering kali lebih mudah diraih daripada keadilan yang nyata dirasakan.
Pemerintah berbicara tentang keberhasilan. Itu hak mereka. Tetapi rakyat juga berhak untuk merasakan, bukan sekadar mendengar.
Rakyat tidak menolak kemajuan. Rakyat hanya ingin memastikan bahwa kemajuan itu tidak berhenti di meja rapat, tidak mengendap di dokumen resmi, dan tidak menguap menjadi sekadar pidato.
Karena jika pembangunan hanya menjadi cerita yang indah di atas kertas, maka ia bukan pembangunan, ia hanya narasi.
Dan narasi, seindah apa pun, tidak bisa mengenyangkan perut.
Hari ini, yang dibutuhkan bukan sekadar laporan yang baik, tetapi keberanian untuk mengakui yang belum selesai. Bukan sekadar angka yang naik, tetapi kehidupan yang benar-benar berubah.
Rakyat kini tidak lagi diam seperti dahulu. Mereka melihat. Mereka merasakan. Mereka mengerti.
Dan ketika rakyat telah mengerti, maka setiap laporan tidak lagi dibaca sebagai kebenaran mutlak, melainkan sebagai sesuatu yang harus diuji.
Di situlah makna sejati dari demokrasi berdiri. bukan pada tepuk tangan di ruang sidang, tetapi pada suara rakyat yang perlahan menjadi kesadaran.
Dan pada hari kelima Idul Fitri, ketika seharusnya rumah-rumah dipenuhi tawa, ketika pintu-pintu terbuka untuk silaturahmi, ketika tangan saling berjabat dalam kehangatan halal bihalal, datanglah air yang tak diundang.
Ia tidak mengetuk. Ia tidak memberi salam. Ia datang sebagai banjir.
Suara berita tentangnya berulang-ulang, nyaring, mengganggu telinga, seolah menjadi pengingat yang tak bisa diabaikan. bahwa di balik ucapan “mohon maaf lahir dan batin”, ada kenyataan yang belum terselesaikan. Air menggenang di halaman, merayap ke dalam rumah, mengusik tamu, mengganggu percakapan, dan memaksa kegembiraan untuk berbagi ruang dengan kegelisahan.
Apa arti perayaan jika kenyamanan terusik oleh persoalan yang seharusnya bisa dicegah?
Banjir bukan sekadar peristiwa alam. Ia sering kali adalah cermin dari kelalaian yang menahun. Dari gorong-gorong yang tersumbat, dari aliran air yang terhalang, dari perencanaan yang tidak selesai, dan dari pengawasan yang melemah seiring waktu.
Air tidak pernah salah jalan. Ia hanya mengikuti jalurnya. Manusialah yang sering lupa menjaga jalur itu tetap terbuka.
Maka ketika banjir datang di hari yang sakral, itu bukan hanya tentang air yang meluap. Itu adalah tanda bahwa ada sesuatu yang luput dari perhatian. Bahwa ada pekerjaan yang ditunda terlalu lama. Bahwa ada tanggung jawab yang belum ditunaikan sepenuhnya.
Pemerintah tidak cukup hanya hadir dalam laporan. Ia harus hadir di titik-titik genangan itu. Ia harus sigap, bukan sekadar tanggap. Membersihkan gorong-gorong, memastikan saluran air bekerja, menertibkan hambatan yang menghalangi aliran, dan merawat sistem yang seharusnya melindungi masyarakat.
Karena kenyamanan rakyat bukanlah hal kecil. Ia adalah dasar dari kepercayaan.
Jika rumah-rumah rakyat masih mudah dimasuki air, maka pembangunan belum benar-benar sampai ke pintu mereka.
Dan jika setiap musim hujan masih membawa cerita yang sama, maka yang perlu diperbaiki bukan hanya saluran air, tetapi juga cara kita memandang tanggung jawab.
Hari raya seharusnya menjadi ruang damai. Jangan biarkan ia berubah menjadi ruang cemas hanya karena persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan.
Sebab rakyat tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin hidup yang layak, rumah yang aman, dan perayaan yang tidak terganggu oleh genangan yang datang berulang.
Dan pada akhirnya, air akan selalu mencari jalan.
Pertanyaannya tinggal satu. apakah kita membiarkannya menjadi bencana, atau kita menyiapkan jalan agar ia tidak lagi menjadi masalah?
Sebab kebenaran, pada akhirnya, tidak tinggal di dalam laporan.
Ia tinggal di dalam kehidupan.
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)












